KIAI GEDE PENYEBAR AGAMA PERTAMA DI KOTAWARINGIN BARAT KALIMANTAN TENGAH
- Jan 28, 2024
- M. HASAN BASRI, S.Pi
Kiai Gede Abdul Qadir Assegaf. Jalankan Titah Sultan Banjar Sebarkan Islam di Kotawaringin.
Kiai Gede atau Abdul Qadir Assegaf merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di Kabupaten Kotawaringin Barat yang kharismanya setara Syekh Arsyad Al Banjary atau Datuk Kalampayan di Kalsel.
Konon nama Kiai Gede disandang Abdul Qadir Assegaf karena ukuran tubuhnya yang sangat besar.
Kerajaan Kutaringin awalnya berinduk ke Kesultanan Banjar, karena Sultan Banjar yang ke-IV, Sultan Mustainubillah (1650 – 1678) mencari wilayah kerajaan baru untuk memberikan peran kepada Putranya sebagai Pemimpin.
Sebagai seorang raja, tidak serta merta langsung menunjuk suatu tempat, tetapi Sultan Mustainubillah memilih mempersiapkan tempat untuk membuka sebuah kerajaan baru. Untuk persiapan itu maka dipilihlah Kyai Gede untuk melaksanakan titah sang Raja. Beliau adalah seorang Ulama asal Demak yg berniat menyebarkan Agama Islam.
Di Kesultanan Banjar terlihat kemampuan Kyai Gede ini bukan saja masalah agama, tetapi masalah perang dan strateginya dikuasainya dengan baik. Akhirnya Kyai Gede-lah yang ditugas ke wilayah kerajaan baru yang akan dibangun juga sebagai penyebar agama Islam.
Diperkirakan sekitar tahun 1655 M adalah tahun awal Kyai Gede menjalankan tugas ke wilayah yang menjadi kerajaan yang nantinya dikenal dengan nama kerajaan Kutaringin.
Sesuai yang ditugaskan oleh Sultan Mustainbillah, yang dilakukan Kyai Gede setelah menemukan wilayah baru tersebut adalah penyebaran agama Islam. Dengan waktu cukup lama menyusuri Sungai Lamandau ke arah hulu sampai ke tempat yang sudah ada penghuninya lebih dulu (Suku Dayak) kemudian mendirikan Kesultanan Kotawaringin atau Kutaringin di wilayah itu dengan Sultan pertama yaitu Pangeran Dipati Anta Kesuma.
Jejak perjuangan Tuan Guru Abdul Qadir Assegaf terlihat dari sebuah masjid yang dibangun dan dinamai dengan sebutan beliau.
Saat ini, Masjid Kiai Gede yang sudah berumur ratusan tahun tersebut masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Hal ini disebabkan oleh keseriusan masyarakat Kotawaringin Barat dalam merawat dan memfungsikan masjid yang dianggap menjadi tonggak sejarah perkembangan Islam di wilayah ini.
Sumber : Kesultanan Banjar